Kabarrakyat.co, BANDUNG — Lembaga Pemasyarakatan (lapas) Narkotika Kelas IIA Bandung terus mengoptimalkan program pembinaan kemandirian bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP). Salah satunya melalui budidaya ayam petelur yang kini menunjukkan hasil signifikan. Hasil dari ayam petelur, digunakan untuk konsumsi makan WBP.
Kepala Lapas (Kalapas) Narkotika Kelas IIA Bandung, Sopiana didampingi Kasi Kegiatan Kerja (kasi Giatja) Raja, meninjau langsung kandang ayam petelur di lingkungan Lapas yang sering disebut dengan nama Lapas Jelekong ini.
Berdasarkan pantauan, tingkat keberhasilan budidaya ayam petelur di LPN Bandung mencapai 90%, saat ini produksi telur berada di angka 461 butir per hari dari 498 ekor ayam petelur.
“Jika dimaksimalkan bisa mencapai kapasitas puncak sempat menyentuh 900 butir telur. Program ini dimulai secara bertahap dari 500 ekor dulu sejak Juni 2026 sesuai arahan untuk mendukung program ketahanan pangan mandiri,”jelas Kalapas Narkotika Kelas IIA Bandung Sopiana, Jumat 25 September 2026.
Kalapas memastikan,bahwa ayam petelur ini terus dilakukan pemantauan setiap harinya.
“Kami terus pantau agar kesehatan dan produktivitas ayam tetap terjaga. Seperti hari ini kami telah memvaksin 498 ekor ayam,” ujar Sopiana.
Kalapas menambahkan, untuk menekan biaya operasional, Lapas memproduksi pakan sendiri.
“Pakan yang digunakan bersifat organik, dengan kebutuhan sebanyak 1 ton untuk 2 minggu,” terangnya.
Langkah ini dinilai efektif karena Lapas hanya membeli bahan baku pakan, lalu diolah mandiri oleh WBP.
Pembinaan di kandang ayam ini, ditangani oleh 4 orang WBP tetap. Penunjukan dilakukan melalui sidang Tim Pengamat Pemasyarakatan atau TPP agar pembinaan berjalan konsisten dan tanggung jawab perawatan lebih maksimal.
“Kami sudah bertemu Kepala Dinas peternakan Kabupaten Bandung.Mudah-mudahan ada respon dari Dinas Pertanian dan Peternakan. Pak Bupati Bandung juga sudah memberikan sinyal untuk kolaborasi,” jelas Sopiana.
Hasil telur dari ternak ayam Petelur, menurut Sopiana untuk dikonsumsi Internal.
“Untuk tahap awal, hasil produksi telur masih digunakan untuk kebutuhan konsumsi WBP di dalam Lapas. Hal ini dikarenakan kebutuhan internal masih belum maksimal. Namun, jika produksi sudah surplus, Lapas Narkotika Bandung menyatakan siap menjual telur ke masyarakat umum sebagai bentuk kontribusi kepada lingkungan sekitar,’ paparnya.
Kalapas memastikan,bahwa ternak ayam petelur ini contoh nyata pembinaan yang produktif.
“Ke depan kami butuh dukungan pemerintah daerah agar program ini bisa terus berkembang dan tentunya bermanfaat bagi WBP serta masyarakat diluar lapas. Itu harapan saya” pungkasnya.
