Perebutan “Kue” oleh Tekfin dan Perbankan

Perebutan “Kue” oleh Tekfin dan Perbankan

Reporter: H. Rambe Purba ,SE

Kabarrakyat.co, – Tekfin merupakan singkatan dari teknologi finansial. Kini tekfin sudah memfasilitasi pemberian kredit ke pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Di zaman yang serba digital ini kita mulai melihat satu per satu industri-industri di seluruh dunia mulai terdisrupsi. Mulai dari industri telekomunikasi dengan adanya online chatting, industri transportasi dengan adanya pemesanan transportasi secara online, industri ritel dengan menjamurnya e-commerce, industri keuangan dengan bertumbuh pesatnya perusahaan rintisan yang berbasis tekfin, dan masih banyak lagi.

Menurut Bank Indonesia, tekfin adalah fenomena perpaduan antara teknologi dengan fitur keuangan yang mengubah model bisnis dan melemahnya barrier to entry.

Model bisnis berubah karena layanan keuangan muncul dengan konsep yang baru, sedangkan melemahnya barrier to entry dikarenakan munculnya pelaku-pelaku yang tidak diregulasi. (Bank Indonesia Temu Ilmiah Nasional Peneliti, Juli 2016, hal. 8)
Tekfin berhasil memberikan inovasi dalam teknologi untuk menciptakan layanan keuangan yang lebih unggul dari institusi keuangan tradisional.

Ada lima kelebihan yang tekfin tawarkan. Pertama, memudahkan pengguna dalam bertransaksi. Kedua, biaya yang lebih murah untuk pengguna. Ketiga, menjangkau pengguna yang tidak terlayani bank/koperasi. Keempat, mengurangi risiko melalui diversifikasi. Kelima, menaikkan teknologi sekuritisasi (Bank Indonesia Temu Ilmiah Nasional Peneliti, Juli 2016, hal. 20)

Terlepas dari keunggulan yang tekfin miliki, tekfin juga memiliki tantangan yang berpotensi untuk menghambat perkembangannya. Menurut hasil survey yang dilakukan oleh Deloitte Consulting dan Asosiasi Tekfin Indonesia tahun 2016, pelaku tekfin di Indonesia mengalami beberapa kendala seperti regulasi yang kurang jelas, kurangnya kolaborasi, kurangnya keahlian yang mendukung, dan literasi keuangan yang kurang memadai. (Indonesia Fintech Report 2016, 2017, hal. 54)

Bapak Niki Luhur selaku Ketua Umum Asosiasi Fintech Indonesia dalam tulisannya yang berjudul “Fintech dan Keberadaannya: Mengusik atau Kolaboratif?” menuliskan bahwa peningkatan jumlah perusahaan rintisan tekfin sejalan dengan jumlah pemilik telepon genggam yang jauh melebihi jumlah pemilik rekening bank. (Luhur, 2016, hal. 2)

Kondisi Perbankan

Masih banyak UKM yang belum memiliki akses ke perbankan. Menurut Indonesia Fintech Report 2016, jumlahnya mencapai 49 juta UKM. Ini menunjukkan potensi besar yang tekfin miliki untuk melayani UKM-UKM tersebut tanpa harus mengambil target pasar bank.

Sebesar 65,23% sumber pembiayaan PDB Q4 tahun 2015 dibiayai oleh sumber selain kredit bank. Hanya 34,77% dibiayai oleh kredit bank. Hanya sekitar 36% orang dewasa di Indonesia yang memiliki akun di institusi keuangan yang formal.

Bank juga memiliki keterbatasan dalam infrastruktur dan geografis saat ingin menjangkau konsumen. Hasilnya, penetrasi kantor cabang bank per 100 ribu penduduk orang dewasa hanya sebesar 11. (Bank Indonesia Temu Ilmiah Nasional Peneliti, Juli 2016, hal. 15)

McKinsey and Company mengutip Global Findex database (2014) yang memberi konklusi bahwa sekitar 50% orang Indonesia mengirim uang melalui bank, 27% menyimpan uang di bank, 7% menggunakan rekening untuk menerima gaji sepanjang tahun lalu, 44% meminjam uang dari keluarga, teman/peminjam tidak resmi, dan 9% memakai kartu debit untuk membayar. (Luhur, 2016, hal. 1)
Beberapa bank juga sudah membantu UKM dalam permodalan.

Sebagai contoh untuk nasabah baru, Bank Danamon meminjamkan modal ke UKM hingga Rp 20 milyar.

Bunga tergantung risiko dan produk kreditnya namun dimulai dari 9%. Kata Gunawan TE, selaku SME Business Head Danamon, total kredit UKM Danamon pada 2016 mencapai Rp 27 triliun dengan komposisi 100% kredit UKM produktif. Rata-rata non performing loan (NPL) untuk kredit UKM Danamon berada di kisaran 3%. Menurut beliau, untuk dapat mengelola kredit UKM dengan baik maka diperlukan relationship-based lending melalui relationship manager untuk menjaga hubungan bank dengan nasabah.

Ada pula tim Analis Kredit yang menganalisa berdasarkan konsep 5C of credit, yaitu Character, Capacity, Capital, Collateral, dan Condition. Nasabah juga akan diberikan solusi untuk keperluan usaha mereka dari sisi pembiayaan dan transaksi keuangan melalui aplikasi digital. (SWA: Raja-Raja Kredit Mikro, Kecil & Menengah, Juni 2017, hal. 43)

Cara Kerja Tekfin
Untuk kasus tekfin, ada baiknya untuk melihat contoh layanan kredit UMKM dari Modalku. Modalku adalah salah satu dari banyak perusahaan rintisan asal Indonesia yang berbasis di bidang tekfin. Modalku menyediakan layanan kredit untuk UMKM melalui peer-to-peer lending dengan suku bunga 12-20% tanpa agunan. Kisaran kredit sejumlah Rp 50 juta – 2 miliar selama 3-12 bulan. Teknologi memampukan Modalku untuk menyetujui pinjaman dalam 24 jam. Sejak berdiri pada Januari 2016 hingga Juni 2017, kredit yang dipinjamkan sejumlah Rp 157 miliar. Menariknya, NPL hanya sebesar 0,005%. Ini tidak terlepas dari kriteria yang harus dipenuhi oleh peminjam dan pemberi pinjaman. Untuk peminjam, Modalku menyeleksi peminjam dengan karakter yang baik dan mampu membayar.

Sedangkan untuk pemberi pinjaman akan dilihat berdasarkan transaksi perbankan yang sudah terverifikasi prinsip know your customer (KYC) dari perbankan. Reynold Wijaya, selaku pendiri Modalku, berkata bahwa Modalku juga mempunyai prinsip KYC sendiri dan semua peminjam dan pemberi pinjaman mempunyai virtual account yang aman. Semua account akan ke escrow account. (SWA: Raja-Raja Kredit Mikro, Kecil & Menengah, Juni 2017, hal. 47)

Dengan, masyarakat yang unbankable dapat diberdayakan melalui kredit yang dikucurkan untuk lebih lagi memajukan usahanya. Secara otomatis, kesenjangan sosial juga dapat diatasi sedikit demi sedikit. Dengan menjamurnya tekfin, beberapa bank sudah mulai lebih mengoptimalkan layanannya dengan memasuki dunia digital.

Sifat tekfin yang jauh lebih fleksibel dari institusi keuangan tradisional tidak akan menggantikan peran institusi keuangan tradisional, namun sifat ini yang akan semakin mendorong tekfin untuk menolong bank dalam menjangkau masyarakat luas terutama pelaku usaha kecil dan menengah yang membutuhkan modal untuk berkembang.

Menjamurnya tekfin juga didorong oleh realita masyarakat Indonesia yang masih kurang dalam literasi keuangannya.

Jika dimanfaatkan dengan benar, tekfin dapat lebih besar kontribusinya untuk membangun ekonomi Indonesia terlebih lagi di era digital ini yang menawarkan berbagai macam kemudahan dan penawaran yang menarik hanya dengan menyentuh layar ponsel pintar.

Ditulis oleh: Jessica Nanny & John T Purba ( Pemerhati Ekonomi, Teknologi Informasi dan Manajemen, dari Universitas Pelita Harapan, Karawaci)

Tags:

ad slot 728x90
ad space 400x90/