EKONOMI RAKYAT [UKM] VS FINTECH

EKONOMI RAKYAT [UKM] VS FINTECH

Reporter: H Rambe Purba, SE

Sistim Ekonomi yang berbasiskan pada kekuatan ekonomi masyarakat luas atau rakyat banyak disebut pelopornya (Bung Hatta, Harian Daulat rakyat, Nopember 1933) sebagai Ekonomi Rakyat.

Bahwa ekonomi rakyat banyak tersebut sebagai kekuatan ekonomi/bisnis yang ditekuni oleh rakyat luas yang dengan secara sendiri-sendiri, secara swadaya juga bersama-sama dalam menjalankan roda perekonomian dimanapun mereka berada. Dengan demikian rantai pasok bebutuhan sehari hari di temapt tersebut dapat terpenuhi dengan baik, sehingga transaksi ekonomi mulai dari mikro [contoh UKM] akan berjalan dengan sedirinya yang mendukung sistim ekonomi makro di Negara tersebut.

Usaha Kecil dan Menegah yang disebut dengan UKM di negeri ini sungguh luar biasa cakupannya yaitu mulai dari sektor perdagangan kecil, kuliner, pertanian, peternakan, kerajinan tangan/rumah tangga, dll.

Dimana kegiatan ekonomi seperti ini guna memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari keluarga mereka masing-masing. Demografi penduduk Indonesia sekitar 250 juta jiwa dengan rentang pulau-pulau yang jumlahnya ribuan di seluruh wilayah NKRI bila Ekonomi Rakyat atau UKMnya di optimalkan sungguh luar biasa dukungannya terhadap PDB Nasional.

Saat ini UKM Nasional ditantang adrenalin dan kemampuannya dengan hadirnya Teknologi Informasi bidang transaksi Keuangan yaitu FINTECH [Financial Technology] yang berbasiskan teknologi jaringan internet yang dihubungkan ke perangkat handphone android atau perangkat lainnya yang kompatibel.

Dimana aplikasi transaksi keuangan peer to peer lending [skema pendanaan gotong royong] yang serba cepat, mudah dan akurat. Menurut anggota Dewan Komisioner OJK juga sebagai Kepala Eksekutif Pengawas IKNB, Riswinandi mengatakan bahwa Fintech terbukti sangat diminati masyarakat dilihat dari menjamurnya jumlah pelaku usaha bidang Fintech serta jenis layanan yang ditawarkan sebagaimana di lansir pada laman Kompas.com, Kamis (11/9/2017).

Sampai bulan September tahun 2017 ini Otoritas Jasa Keuangan melaporkan bahwa pertumbuhan penyaluran dana melalui fintech p2p lending ini di Indonesia mencapai 1,6 triliun rupiah, dan ini merupakan jumlah yang sangat besar pada saat permulaan atau start up. Bila dilihat dari nilai pendanaan di luar Pulau Jawa telah meningkat sebesar 1.074 persen sejak akhir tahun lalu menjadi Rp 276 miliar. Hal tersebut didukung adanya peningkatan jumlah pemberi pinjaman di luar pulau Jawa sebesar 784 persen, begitu juga dengan jumlah peminjam yang meningkat sebesar 745 persen.

Lantas bagaimana dengan UKM?. Menurut data OJK RI ada 49 juta UKM di Indonesia yang belum bankable dan dimana UKM seperti ini sangat membutuhkan akses terhadap pinjaman seperti Fintech. Dengan deimikan mau tidak mau, suka tidak suka para pelaku UKM harus mampu menyesuaikan diri dengan hadirnya teknologi ini. Jangan biarkan kesempatan emas ini diambil oleh bangsa asing sebagai pengelolanya. Ayo bergegaslah hai saudaraku pengusaha ekonomi rakyat, hai Pemerintah Pusat dan daerah yang membidangi koperasi dan ekonomi kreatif bangkitlah dukunglah bangsamu, dukung rakyatmu untuk Indonesia Jaya. Peran Pemerintah dan para pelaku Fintech sangat dominan untuk melatih, membimbing dan memfasilitasi mereka agar turut serta dalam kancah persaingan ekonomi kerakayatan ini.

(Ditulis oleh : John TP (Pemerhati Ekonomi, Manajemen dan TIK)

URL assosiasi Fintech Indonesia: https://fintech.id/about-us

Tags: , , ,

ad slot 728x90
ad space 400x90/