Apresiasi Karya Sastra Berbahasa Daerah Lewat Penghargaan Rancage

Apresiasi Karya Sastra Berbahasa Daerah Lewat Penghargaan Rancage

KabarRakyat, Bandung – Yayasan Kebudayaan Rancage bersama Yayasan Pusat Studi Sunda memberikan apresiasi kepada empat karya sastra berbahasa daerah terbaik. Penghargaan Hadiah Sastra Rancage diberikan kepada para penulis dari asal daerah Sunda, Jawa, Bali, dan Batak.

Menurut Ketua Yayasan Kebudayaan Rancage, Rahmat Taufik Hidayat, pihaknya secara mandiri menyeleksi karya sastra dan buku – buku berbahasa daerah yang didapat di toko – toko, maupun langsung dari penerbit.

“Pertama kami mengumpulkan buku buku dari toko buku di pasaran, dari penerbit – penerbit, yang menerbitkan buku berbahasa daerah,” jelas Rahmat, disela Pemberian Hadiah Sastra Rancage, yang berlangsung di Perpustakaan Ajip Rosidi, Jalan Garut No.2, Bandung, Sabtu (22/08).

Proses penilaian sendiri menurut Rahmat melibatkan para ahli bahasa daerah, yang didatangkan langsung dari daerah masing – masing peserta. Selain itu para juri punya otoritas masing – masing dalam menentukan pemenang.

Adspun juri – juri tersebut antara lain, HW Setiawan, Ceceo Burdansyah, Tedi Muhtadin (Sastra Sunda). Sri Widiati Harmoko (Sastra Jawa), Palakitri T Simbolon (Sastra Batak), serta satu profesor dan ahli bahasa dari Universitas Udayana Bali.

“Kami juga bekerjasama dengan tim juri, dari bahasa ibu tersebut untuk menilai. Karena kalau kami sendiri kami ini bukan ahlinya,” tandasnya.

Pemenang sendiri mendapat piagam dan hadiah uang sebesar lima juta rupiah. Adapun pemenang hadiah Sastra Rancage 2015 diantaranya, Lagu Ngajadi, karya Dian Hendrayana (Sastra Sunda), Sepincuk Rembulan, karya Triman Laksono (Sastra Jawa), Ngurug Pasih, karya I Gede Putra Ariawan (Sastra Bali), serta Si Tumoing : Manggorga Ari Sogot dan Si Tumoing : Pasiding Holang Padimpos Holong, karya Saut Poltak Tambunan (Sastra Batak).

Meski hadiah yang diberikan cenderung kecil, Rahmat ingin karya sastra dinilai dsri maknanya. Yang ia tawarkan dari penghargaan ini adalah adanya semangat melestarikan bahasa ibu (bahasa daerah).

“Memang tidak besar (angkanya), tapi yang ingin kita tawarkan itu ialah semangat, untuk melestarikan bahasa ibu, sebagai kebudayaan kita,”pungkasnya.[kr-1]

Laporan: Andri Ridwan

Tags: , , ,

ad slot 728x90
ad space 400x90/